Taman Kayu

Selain memang ikonik, cemara udang(casuarina) menempati posisi terbanyak dalam jumlah populasi pada habitat fauna di Kawasan Wisata Pantai Goa Cemara. Ditanam sekitar tahun 2000an, cemara udang periode pertama penanaman mulai memasuki usia rentan, ketinggian pohon dan kekuatan pokok batang masuk pada tahapan berat untuk ukuran windbarrier yang berhadapan langsung dengan cuaca samudra Hindia. Ditambah dengan cuaca buruk pada medium 2016, banyak pohon tumbang akibat hantaman angin ribut dan abrasi.

Karena termasuk tipe yang sulit diolah, kayu cemara udang tidak bernilai jual selain sebagai kayu bakar. Menyikapi hal tersebut, tim kreatif KATARUPA (Karang Taruna Patihan) membuat barang-barang bernilai guna lebih dari kayu limbah cemara udang yang memang melimpah. Karya diawali dengan bentuk-bentuk fungsional dan sederhana, agar berfungsi maksimal sebagai fasilitas pembantu di Kawasan Wisata Pantai Goa Cemara.

Sementara bentuk fungsional diutamakan, pembuatan karya dipadu padankan dengan hasil pantauan tim terhadap kebutuhan pengunjung, agar keunikan kayu cemara udang tidak serta merta hilang dan bernilai historis di hati pecinta wisata yang datang. Esensi karya-karya KATARUPA murni diambil dari keterikatan pecinta wisata dengan Goa Cemara yang memang diutamakan untuk wisata keluarga.

PERJALANAN

1. Kursi Segi
Meja pertemuan berbentuk setengah segi delapan, mewakili separuh dari arah mata angin. Gambaran dari kecenderungan remaja dalam berkomunitas, berkumpul mencari arah kelengkapan dalam rangka pencarian jati diri. Seringkali berpindah posisi, bekerja secara sosial mendalami berbagai sisi, sebelum memutuskan fokus ke satu arah untuk menepi.
Terletak di bawah rimbunan cemara, tidak berhadapan langsung dengan angin laut dan panas matahari. Meja di tengah utuh segi delapan sebagai pusat kendali. Dalam artian, pada usia ini masih dibawah naungan, dan memang belum bisa dilepas berhadapan langsung dengan berbagai masalah kehidupan yang akan menerpa dikemudian hari.

img_20161121_1242402. Love Circle
Sementara dalam pencarian menuju kematangan, menemukan seseorang yang rela diajak berjalan menghadapi terpaan angin kehidupan yang lebih kencang. Untuk kemudian duduk berdua berhadapan, dalam satu hati. Hanya ada dua kursi, karena memang tak ada lagi tempat untuk orang ketiga.
Tersusun dari potongan-potongan kecil kayu mati, yang kaku dan tajam, yang jika tidak berhati-hati, akan membuat kita terluka.

About the author

mm

Spotmaker